JAYAPURA ( Bisnis Papua )- Sebanyak 4000 ton beras Impor asal Vietnam tiba di pelabuhan Jayapura, Papua, Selasa ( 7/11/2023) malam. Sebelumnya sebanyak 7000 ton beras yang sama juga masuk di pelabuhan Sorong Papua Barat.
” Tadi malam Kapal NV AN BINH 18 dari Vietnam sudah tiba di Jayapura , prosesnya juga sudah dilakukan bersama dengan dinas terkait, Bea Cukai, Karantina Kesehatan,dan Pelindo,” ungkap Pimpinan Perum Bulog Kantor Wilayah Papua dan Papua Barat, Raden Guna Dharma yang diakrab disapa Awan,Rabu ( 8/11/2023).

Kemudian, lanjut Awan, pagi ini beras tersebut dilakukan pembongkaran, setelah proses pembukaan dari Bea Cukai. Estimasi proses pembongkaran dari kapal hingga kegudang bulog diperkirakan selama 4 hingga 5 hari.
“beras impor ini plafon kita atau kuota kita di Papua itu sekitar 11.000 ton yang terbagi sebanyak 7.000 ton sudah selesai kemarin dilakukan pembongkaran di Sorong Papua Barat, kemudian 4.000 hari ini di Jayapura, Papua” ungkapnya.
Lanjut Awan, dengan masuknya beras impor tersebut stok yang ada saat ini sebanyak 43.000 ton dengan ketahanan enam bulan kedepan.
” artinya ini enam bulan kedepan itu stok kita itu masih aman ” ujar Awan.
Awan menerangkan, untuk sementara pelabuhan yang bisa bersandar untuk kapal impor itu baru Sorong dan Jayapura. Kemungkinan nanti di Desember 2023 dan Januari 2024, untuk Jayapura akan ditambah kuotanya jadi 11.000 ton untuk tahap kedua.
Stok yang ada saat ini nantinya akan dilakukan penyaluran untuk 4 ( empat )jalur distribusi, yang pertama untuk bantuan pangan karena ada penambahan kuota dibulan Desember 2023, selanjutnya ASN/TNI POLRI, SPHP atau Operasi Pasar, dan untuk cadangan pangan bila ada terjadi bencana.
“Sebenarnya perlu diketahui bahwa Beras kita saat ini adalah kualitas premium tapi penggunaannnya itu adalah untuk beras medium atau untuk Publik Service Obligasi ( PSO )/subsidi pemerintah” terangnya.
Ditambahkan Awan, pihaknya sendiri sudah berkomitmen sesuai arahan Presiden Jokowi maupun Dirut Bulog bahwa untuk penggunaan beras khususnya pada jalur distribusi tetap menggunakan beras premium.



















