Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaNasional

Warga Desa Blang Panjoe Aceh Sambut Haru Bantuan dari Kementerian ESDM dan PLN

×

Warga Desa Blang Panjoe Aceh Sambut Haru Bantuan dari Kementerian ESDM dan PLN

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BIREUEN ( bisnispapua.com )- Halaman masjid yang kini menjadi posko pengungsian tampak riuh oleh aktivitas warga dan relawan yang memasak di dapur umum. Tawa lirih bercampur letih menggambarkan bagaimana warga Desa Blang Panjoe, Kabupaten Bireuen, Aceh, saling menguatkan setelah rumah mereka terendam banjir. Dari tempat inilah mereka perlahan bangkit dengan penuh harapan.

Example 300x600

Di tengah hiruk pikuk itu, Deva, seorang warga Desa Blang Panjoe, berkaca-kaca saat bantuan logistik mulai tiba. Hadirnya bantuan dari PT PLN (Persero) melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terasa seperti uluran tangan penyelamat.

“Terima kasih kami ucapkan kepada pihak-pihak terkait seperti PLN, Bapak Menteri ESDM, Pak Bahlil. Terima kasih karena sudah kasih bantuan ke kami sebegini rupa,” tutur Deva dengan suara bergetar.

Salah seorang ibu rumah tangga, Murdiana, menatap tumpukan bantuan dengan penuh rasa syukur. Menurutnya, di masa sulit ini kebutuhan pangan menjadi prioritas utama bagi para pengungsi.

“Kalau ada rezeki, semoga bantuannya bisa diperpanjang lagi. Sebab, kami sangat membutuhkan,” ungkapnya.

Bupati Bireuen, Mukhlis mengaku lega melihat solidaritas yang datang dari pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM dan PLN. Menurutnya, bantuan ini menjadi energi baru bagi warga yang sedang berjuang memulihkan kehidupan mereka.

Bantuan yang diberikan PLN melalui Kementerian ESDM berupa 700 kilogram (kg) beras, 700 kg gula, dan 1.400 liter minyak goreng untuk memenuhi kebutuhan dasar para warga yang terdampak.

“Ini merupakan kebahagiaan besar bagi kami, masyarakat Bireuen. Dengan kehadiran Bapak membawa berkah yang luar biasa,” ujarnya.

Ia menambahkan, warga juga sangat menantikan percepatan pemulihan kelistrikan, karena listrik menjadi denyut penting bagi aktivitas sehari-hari mereka.

Sementara itu, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menegaskan, seluruh sektor termasuk PLN harus bergerak bersama untuk mempercepat penanganan pascabencana. Ia juga memastikan bahwa penyaluran bantuan logistik hingga kesiapan dapur umum berjalan efektif dan optimal.

“Perintah Bapak Presiden adalah kita tidak boleh menyerah. Semua kekuatan nasional kita harus diturunkan. Itu menyangkut dengan BBM dan listrik, menyangkut dengan apa yang hari ini saya lihat di dapur umum,” ujar Bahlil.

Mengenai pemulihan kelistrikan, Bahlil mengatakan bahwa upaya percepatan terus dilakukan agar suplai listrik segera kembali normal. Pemerintah bersama PLN telah menyiapkan langkah-langkah konkret untuk mengatasi gangguan jaringan di tengah tantangan akses medan yang sangat berat.

“Kita harus memperbaikinya dengan cepat. Problemnya adalah infrastruktur untuk kita bangun tower darurat itu tidak bisa lewat jalan darat, harus lewat helikopter. Karena jalan untuk masuk ke sini memang betul-betul lumpuh ini. Tapi, Alhamdulillah sudah ada solusi,” jelas Bahlil.

Lebih lanjut, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, memastikan bahwa seluruh lini PLN bergerak tanpa henti untuk memulihkan sistem kelistrikan sekaligus menyalurkan bantuan sosial di masa darurat ini.

“PLN akan terus mengerahkan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk memastikan kebutuhan masyarakat dapat terlayani, termasuk kebutuhan sosial. Untuk mempercepat pemulihan kelistrikan, kami tugaskan personel untuk bekerja nonstop. Semoga upaya bersama ini dapat meringankan beban warga dan mempercepat pemulihan di Kabupaten Bireuen,” ucapnya.

Bantuan PLN melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dan Yayasan Baitul Maal (YBM) yang disalurkan bagi warga Aceh mencakup beras, minyak goreng, gula, mi instan, telur, makanan siap saji, air mineral, perlengkapan bayi, selimut, dan obat-obatan.

Selain itu, PLN juga telah menyediakan dapur umum di 11 lokasi, terdiri dari 7 titik di Pidie, 2 titik di Bireuen, 1 titik di Lhokseumawe dan 1 titik di Bener Meriah. Empat di antaranya adalah hasil kolaborasi dengan Komando Daerah Militer (Kodam) Iskandar Muda.

“Atas arahan Danantara Indonesia, PLN berkolaborasi dengan Pemda dan Kodam dalam pembangunan dapur umum. Ini membuktikan bahwa bersama-sama, percepatan pemulihan warga terdampak bisa dicapai, dan bantuan yang diberikan benar-benar sampai ke mereka yang membutuhkan,” pungkas Darmawan melalui siaran pers, Jumat ( 5/12). ( Pr / red )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

JAYAPURA ( bisnispapua.com ) -Hanya karena ingin menghemat beberapa menit perjalanan, sebagian pengendara masih nekat mengambil jalan pintas dengan melawan arus lalu lintas. Kebiasaan yang kerap dianggap sepele tersebut justru menjadi salah satu penyebab tingginya risiko kecelakaan di jalan raya.  Fenomena ini masih mudah ditemui di berbagai daerah, termasuk di Kota Jayapura. Di sejumlah titik, seperti kawasan Ring Road, Entrop, Kamkey Abepura hingga beberapa ruas jalan lainnya, pengendara sepeda motor yang melawan arus masih menjadi pemandangan yang hampir terjadi setiap hari. Tidak sedikit pengguna jalan yang akhirnya menganggap perilaku tersebut sebagai hal yang biasa, padahal tindakan tersebut jelas melanggar aturan dan membahayakan keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.  Ironisnya, pelanggaran tersebut tetap terjadi meskipun berbagai upaya telah dilakukan oleh para pemangku kepentingan. Direktorat Lalu Lintas Polda Papua bersama Dinas Perhubungan secara rutin melakukan pengaturan lalu lintas dan penegakan hukum. Berbagai fasilitas keselamatan seperti water barrier, traffic cone, pagar pembatas, marka jalan, hingga rambu larangan melawan arus juga telah dipasang di sejumlah titik rawan. Namun, fasilitas tersebut belum sepenuhnya mampu mengubah perilaku sebagian pengendara.  Alasan yang sering dikemukakan pun hampir selalu sama, yaitu tidak ingin memutar terlalu jauh, ingin menghemat waktu, atau merasa sudah memahami kondisi jalan sehingga yakin dapat menghindari kendaraan dari arah berlawanan. Padahal, keputusan tersebut justru menciptakan potensi bahaya yang jauh lebih besar.  Jalan raya dirancang dengan sistem lalu lintas yang memungkinkan setiap pengguna jalan dapat memperkirakan arah datangnya kendaraan lain. Ketika ada kendaraan yang muncul dari arah berlawanan secara tiba-tiba, waktu pengendara lain untuk bereaksi menjadi sangat terbatas. Kondisi inilah yang sering menjadi pemicu kecelakaan, baik tabrakan frontal maupun kecelakaan beruntun.  Yang lebih mengkhawatirkan, perilaku melawan arus perlahan berubah menjadi budaya yang dianggap lumrah. Ketika satu pengendara melakukannya tanpa mendapatkan teguran, pengendara lain cenderung mengikuti. Akibatnya, pelanggaran yang semestinya dicegah justru menjadi kebiasaan yang terus berulang.  Melawan arus bukan sekadar melanggar rambu lalu lintas, tetapi merupakan bentuk pengabaian terhadap hak pengguna jalan lain untuk berkendara dengan aman. Setiap pengendara memiliki hak untuk merasa aman saat menggunakan jalan, dan hak tersebut hanya dapat terwujud apabila seluruh pengguna jalan saling menghormati aturan yang berlaku.  Keselamatan lalu lintas tidak hanya ditentukan oleh kualitas infrastruktur, kelengkapan rambu, atau kehadiran petugas di lapangan. Faktor yang paling menentukan adalah perilaku manusia itu sendiri. Sebagus apa pun jalan yang dibangun, selengkap apa pun fasilitas keselamatan yang disediakan, semuanya tidak akan berarti apabila pengguna jalan masih mengabaikan aturan.  Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat membangun budaya berlalu lintas yang lebih disiplin. Memilih tetap berada di jalur yang benar, mematuhi rambu lalu lintas, menggunakan perlengkapan keselamatan, serta saling menghargai sesama pengguna jalan merupakan langkah sederhana yang dapat menyelamatkan banyak nyawa.  Jalan raya adalah ruang bersama. Keselamatan di dalamnya bukan lahir dari keberuntungan, melainkan dari kepatuhan setiap pengguna jalan terhadap aturan. Jangan korbankan keselamatan hanya demi mempersingkat perjalanan. Karena sampai di tujuan dengan selamat akan selalu lebih berharga daripada tiba beberapa menit lebih cepat. ( Rilis )