Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaDaerah

Ijin Trayek Manokwari-Bintuni Diprotes, Komunitas Sopir Hilux Minta Pemda Evaluasi

×

Ijin Trayek Manokwari-Bintuni Diprotes, Komunitas Sopir Hilux Minta Pemda Evaluasi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MANOKWARI ( bisnispapua.com )- Ratusan orang sopir lintas Manokwari – Kabupaten Teluk Bintuni meradang setelah adanya kabar akan adanya pemberian ijin operasi travel trayek angkutan Manokwari – Teluk Bintuni oleh pemerintah,Minggu (7/12/2025).

Example 300x600

Ketua Komunitas Hilux Manokwari – Teluk Bintuni dan Lintas Papua Barat Bapak Nofti melalui siaran persnya tegas menolak rencana jasa travel tersebut. Diakuinya, jasa angkutan mobil lintas kabupaten telah dirintis pihaknya bersama komunitas sedari awal, sehingga jika adanya travel masuk dan turut mengambil penumpang trayek lintas kabupaten tersebut maka sangat menganggu stabilitas yang telah berjalan.

“Kami bersama rekan- rekan yang merintis moda transportasi Manokwari- Bintuni ini dari awal, dulu saat masih pakai hardtop hingga sekarang pakai Hilux. Kami berkomitmen untuk saling menjaga dan menertibkan. Ini adalah piring makan kami, sehingga jika ada yang masuk lagi (travel) sama saja menganggu piring makan kami,”tegas Nofti.

“Saya selaku ketua menegaskan bahwa tidak ada lagi angkutan lain yang masuk, misalkan travel dan lainnya yang sejenis. Kami tegaskan lagi bahwa kami menolak untuk ada angkutan lain trayek Manokwari- Bintuni. Jangan ada yang mau mengambil keuntungan dari ini,”ucapannya.

Dirinya juga mengatakan bahwa pihaknya siap mendukung pemerintah baik kabupaten maupun provinsi berkaitan dengan penertiban maupun retribusi yang mungkin dikenakan.

“Kami mendukung pemerintah jika mau ada penertiban, mungkin soal PAD (Pendapatan Asli Daerah,red) itu kami siap. Kami ada juga untuk membantu pembangunan daerah ini,”katanya.

Diakuinya, saat ini pihaknya juga sedang mengurus legalitas komunitas, sehingga kedepan kami memiliki organisasi yang solid dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Sementara kami urus untuk akta dan berkas lainnya. Kami harapkan bisa terdaftar di pemerintah. Ini adalah bukti komitmen kami untuk mendukung program pemerintah, dan harapan kami, pemerintahan juga mendukung kami,”ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil ketua Komunitas Hilux Manokwari – Teluk Bintuni, Hamzah juga menyampaikan hal serupa. Dirinya berharap pemerintah kabupaten maupun provinsi tidak mengeluarkan ijin bagi Travel untuk melakukan aktivitas jasa angkut Manokwari – Teluk Bintuni.

“Karena kalau travel masuk, maka akan sangat menganggu aktivitas kami yang selama ini berjalan baik. Kasihan masih banyak anggota kami yang baru saja mulai dan memiliki tanggungan. Jangan sampai kami para sopir gulung tikar dengan adanya travel,”ucapnya.

“Kami sangat berharap kepada pemerintahan baik kabupaten Manokwari maupun Provinsi untuk tidak memberikan ijin kepada travel. Kami harap apa yang kami sampaikan ini bisa didengar dan dianulir,”katanya.

Diakuinya bahwa selama ini aktivitas jasa angkutan mobil Hilux Manokwari – Teluk Bintuni berjalan baik, pelayanan yang diberikan para sopir yang tergabung dalam komunitas juga sangat baik, dan masyarakat juga senang dengan pelayanan yang diberikan.

“Mohon aspirasi kami ini bisa didengar, dan apa yang menjadi harapan kami bisa diterima pemerintah,”pungkasnya. ( Pr / Red )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

JAYAPURA ( bisnispapua.com ) -Hanya karena ingin menghemat beberapa menit perjalanan, sebagian pengendara masih nekat mengambil jalan pintas dengan melawan arus lalu lintas. Kebiasaan yang kerap dianggap sepele tersebut justru menjadi salah satu penyebab tingginya risiko kecelakaan di jalan raya.  Fenomena ini masih mudah ditemui di berbagai daerah, termasuk di Kota Jayapura. Di sejumlah titik, seperti kawasan Ring Road, Entrop, Kamkey Abepura hingga beberapa ruas jalan lainnya, pengendara sepeda motor yang melawan arus masih menjadi pemandangan yang hampir terjadi setiap hari. Tidak sedikit pengguna jalan yang akhirnya menganggap perilaku tersebut sebagai hal yang biasa, padahal tindakan tersebut jelas melanggar aturan dan membahayakan keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.  Ironisnya, pelanggaran tersebut tetap terjadi meskipun berbagai upaya telah dilakukan oleh para pemangku kepentingan. Direktorat Lalu Lintas Polda Papua bersama Dinas Perhubungan secara rutin melakukan pengaturan lalu lintas dan penegakan hukum. Berbagai fasilitas keselamatan seperti water barrier, traffic cone, pagar pembatas, marka jalan, hingga rambu larangan melawan arus juga telah dipasang di sejumlah titik rawan. Namun, fasilitas tersebut belum sepenuhnya mampu mengubah perilaku sebagian pengendara.  Alasan yang sering dikemukakan pun hampir selalu sama, yaitu tidak ingin memutar terlalu jauh, ingin menghemat waktu, atau merasa sudah memahami kondisi jalan sehingga yakin dapat menghindari kendaraan dari arah berlawanan. Padahal, keputusan tersebut justru menciptakan potensi bahaya yang jauh lebih besar.  Jalan raya dirancang dengan sistem lalu lintas yang memungkinkan setiap pengguna jalan dapat memperkirakan arah datangnya kendaraan lain. Ketika ada kendaraan yang muncul dari arah berlawanan secara tiba-tiba, waktu pengendara lain untuk bereaksi menjadi sangat terbatas. Kondisi inilah yang sering menjadi pemicu kecelakaan, baik tabrakan frontal maupun kecelakaan beruntun.  Yang lebih mengkhawatirkan, perilaku melawan arus perlahan berubah menjadi budaya yang dianggap lumrah. Ketika satu pengendara melakukannya tanpa mendapatkan teguran, pengendara lain cenderung mengikuti. Akibatnya, pelanggaran yang semestinya dicegah justru menjadi kebiasaan yang terus berulang.  Melawan arus bukan sekadar melanggar rambu lalu lintas, tetapi merupakan bentuk pengabaian terhadap hak pengguna jalan lain untuk berkendara dengan aman. Setiap pengendara memiliki hak untuk merasa aman saat menggunakan jalan, dan hak tersebut hanya dapat terwujud apabila seluruh pengguna jalan saling menghormati aturan yang berlaku.  Keselamatan lalu lintas tidak hanya ditentukan oleh kualitas infrastruktur, kelengkapan rambu, atau kehadiran petugas di lapangan. Faktor yang paling menentukan adalah perilaku manusia itu sendiri. Sebagus apa pun jalan yang dibangun, selengkap apa pun fasilitas keselamatan yang disediakan, semuanya tidak akan berarti apabila pengguna jalan masih mengabaikan aturan.  Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat membangun budaya berlalu lintas yang lebih disiplin. Memilih tetap berada di jalur yang benar, mematuhi rambu lalu lintas, menggunakan perlengkapan keselamatan, serta saling menghargai sesama pengguna jalan merupakan langkah sederhana yang dapat menyelamatkan banyak nyawa.  Jalan raya adalah ruang bersama. Keselamatan di dalamnya bukan lahir dari keberuntungan, melainkan dari kepatuhan setiap pengguna jalan terhadap aturan. Jangan korbankan keselamatan hanya demi mempersingkat perjalanan. Karena sampai di tujuan dengan selamat akan selalu lebih berharga daripada tiba beberapa menit lebih cepat. ( Rilis )