Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Berita

Green Employee Involvement, Jadi Wadah Pegawai PLN Peringati Hari Lingkungan Internasional 2024

×

Green Employee Involvement, Jadi Wadah Pegawai PLN Peringati Hari Lingkungan Internasional 2024

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAYAPURA ( Bisnis Papua )- Sebagai wujud nyata implementasi Employee Volunteering Program 2024 dan guna meningkatkan jiwa kepeduliaan pegawai PLN agar terlibat secara aktif sebagai relawan dalam program peduli lingkungan, serta dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Internasional 2024. PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Maluku dan Papua (UIP MPA) menggelar kegiatan Green Employee Involvement di Pantai Menduck (Venue Dayung) Holtekam, Jayapura pada Senin (3/6).

Example 300x600

Program Green Employee Involvement merupakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) yang merujuk pada capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 12 yakni konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Pada tahun ini, program tersebut berfokus pada pembersihan dan pengolahan sampah di kawasan sungai, pesisir, atau pantai.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Daerah Kota Jayapura, Frans Pikey, Komandan Rayon Militer 1701-03 Abepura, Kapten Inf. Riswan beserta anggota, Kepala Bank Sampah Jayapura, Samanggas Ronsumbre, perwakilan Lantamal X Jayapura dan Polres Kota Jayapura.

General Manager PLN UIP MPA, Wisnu Kuntjoro Adi dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah komitmen PLN dalam menjaga serta melestarikan lingkungan secara berkelanjutan.

“Setiap sampah yang kita angkat, setiap sudut pantai yang akan kita bersihkan adalah langkah nyata untuk menjaga keindahan dan kelestarian lingkungan pesisir pantai. Ini bukan hanya tentang membersihkan tetapi juga tentang membangun kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan dan melestarikan lingkungan bagi generasi mendatang,” ucap Wisnu.

Wisnu mengajak semua elemen yang terlibat dalam kegiatan ini untuk bersama – sama dengan semangat gotong royong, bahu – membahu untuk mengembalikan keindahan pantai Jayapura agar dapat memberikan perubahan bagi masa depan lingkungan kita.

Selanjutnya, Sekretaris Daerah Kota Jayapura, Frans Pekey yang hadir mewakili Penjabat Walikota Jayapura menyampaikan ucapan terima kasih yang luar biasa kepada PLN karena telah melaksanakan kegiatan peduli lingkungan di sekitar pantai.

“Dalam kesempatan yang luar biasa ini, saya mewakili Penjabat Walikota Jayapura mengucapkan terima kasih kepada PLN yang telah menyelenggarakan kegiatan peduli lingkungan hari ini,” ucap Frans.

Ia berharap kolaborasi dan sinergi Pemerintah dan PLN terus berjalan, yang nantinya dapat terus bekerja sama dalam menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar.

Sementara itu, Koordinator Umum Komunitas Rumah Bakau Jayapura, Theresia Faradila mengungkapkan antusiasme komunitasnya dalam kegiatan ini. Ia menyampaikan kegiatan kegiatan serupa sudah menjadi hal biasa yang dilakukan komunitas, namun kali ini sampah yang dikumpul harus diolah kembali untuk dijadikan produk baru.

“Program ini merupakan kesepakatan kita bersama tentunya dalam mengurangi sampah yang mengakibatkan pencemaran lingkungan. Sebagian besar sampah yang kami kumpulkan adalah sampah plastik, rencana akan kami cacah, kemudian akan jadi bahan dasar seperti pembuatan paving block, kerajinan tatakan meja, atau dalam skala besar dibuatkan partisi ruangan dari sampah. Inilah yang kemudian jadi tantangan kami bagi komunitas untuk mengolahnya jadi barang bernilai jual,” ucap There.

Kegiatan yang diikuti oleh 120 pegawai PLN, 40 orang dari Komunitas dan undangan yang hadir dalam kegiatan tersebut berhasil mengumpulkan sampah dari tiga titik lokasi dengan berat total 1,4 ton.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

JAYAPURA ( bisnispapua.com ) -Hanya karena ingin menghemat beberapa menit perjalanan, sebagian pengendara masih nekat mengambil jalan pintas dengan melawan arus lalu lintas. Kebiasaan yang kerap dianggap sepele tersebut justru menjadi salah satu penyebab tingginya risiko kecelakaan di jalan raya.  Fenomena ini masih mudah ditemui di berbagai daerah, termasuk di Kota Jayapura. Di sejumlah titik, seperti kawasan Ring Road, Entrop, Kamkey Abepura hingga beberapa ruas jalan lainnya, pengendara sepeda motor yang melawan arus masih menjadi pemandangan yang hampir terjadi setiap hari. Tidak sedikit pengguna jalan yang akhirnya menganggap perilaku tersebut sebagai hal yang biasa, padahal tindakan tersebut jelas melanggar aturan dan membahayakan keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.  Ironisnya, pelanggaran tersebut tetap terjadi meskipun berbagai upaya telah dilakukan oleh para pemangku kepentingan. Direktorat Lalu Lintas Polda Papua bersama Dinas Perhubungan secara rutin melakukan pengaturan lalu lintas dan penegakan hukum. Berbagai fasilitas keselamatan seperti water barrier, traffic cone, pagar pembatas, marka jalan, hingga rambu larangan melawan arus juga telah dipasang di sejumlah titik rawan. Namun, fasilitas tersebut belum sepenuhnya mampu mengubah perilaku sebagian pengendara.  Alasan yang sering dikemukakan pun hampir selalu sama, yaitu tidak ingin memutar terlalu jauh, ingin menghemat waktu, atau merasa sudah memahami kondisi jalan sehingga yakin dapat menghindari kendaraan dari arah berlawanan. Padahal, keputusan tersebut justru menciptakan potensi bahaya yang jauh lebih besar.  Jalan raya dirancang dengan sistem lalu lintas yang memungkinkan setiap pengguna jalan dapat memperkirakan arah datangnya kendaraan lain. Ketika ada kendaraan yang muncul dari arah berlawanan secara tiba-tiba, waktu pengendara lain untuk bereaksi menjadi sangat terbatas. Kondisi inilah yang sering menjadi pemicu kecelakaan, baik tabrakan frontal maupun kecelakaan beruntun.  Yang lebih mengkhawatirkan, perilaku melawan arus perlahan berubah menjadi budaya yang dianggap lumrah. Ketika satu pengendara melakukannya tanpa mendapatkan teguran, pengendara lain cenderung mengikuti. Akibatnya, pelanggaran yang semestinya dicegah justru menjadi kebiasaan yang terus berulang.  Melawan arus bukan sekadar melanggar rambu lalu lintas, tetapi merupakan bentuk pengabaian terhadap hak pengguna jalan lain untuk berkendara dengan aman. Setiap pengendara memiliki hak untuk merasa aman saat menggunakan jalan, dan hak tersebut hanya dapat terwujud apabila seluruh pengguna jalan saling menghormati aturan yang berlaku.  Keselamatan lalu lintas tidak hanya ditentukan oleh kualitas infrastruktur, kelengkapan rambu, atau kehadiran petugas di lapangan. Faktor yang paling menentukan adalah perilaku manusia itu sendiri. Sebagus apa pun jalan yang dibangun, selengkap apa pun fasilitas keselamatan yang disediakan, semuanya tidak akan berarti apabila pengguna jalan masih mengabaikan aturan.  Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat membangun budaya berlalu lintas yang lebih disiplin. Memilih tetap berada di jalur yang benar, mematuhi rambu lalu lintas, menggunakan perlengkapan keselamatan, serta saling menghargai sesama pengguna jalan merupakan langkah sederhana yang dapat menyelamatkan banyak nyawa.  Jalan raya adalah ruang bersama. Keselamatan di dalamnya bukan lahir dari keberuntungan, melainkan dari kepatuhan setiap pengguna jalan terhadap aturan. Jangan korbankan keselamatan hanya demi mempersingkat perjalanan. Karena sampai di tujuan dengan selamat akan selalu lebih berharga daripada tiba beberapa menit lebih cepat. ( Rilis )