JAYAPURA (bisnispapua.com) – Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah mulai berdampak pada industri perhotelan di Papua. Berkurangnya kegiatan pemerintah membuat tingkat hunian hotel mengalami penurunan sehingga pelaku usaha harus mencari sumber pasar baru.
General Manager Horison Kotaraja Jayapura, Pandan Setiadi mengatakan selama ini segmen pemerintah menjadi salah satu penyumbang utama okupansi hotel. Namun, sejak kebijakan efisiensi diberlakukan pada 2025 dan masih berlanjut pada 2026, permintaan dari instansi pemerintah menurun signifikan.
“Kami harus mengubah strategi. Kalau sebelumnya pasar kami didominasi segmen pemerintah, sekarang kami fokus memperluas pasar ke korporasi dan pelanggan individu,” ujarnya kepada pers, di perayaaan HUT Horison Kotaraja ke -7, Sabtu ( 18/7)
Pandan menjelaskan, untuk mengejar pasar baru, manajemen menerapkan strategi jemput bola dengan mendatangi berbagai perusahaan di Jayapura maupun daerah lain seperti Nabire dan Timika. Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas jaringan pelanggan sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar pemerintah.
Selain membidik pasar korporasi, Horison Kotaraja juga memperkuat segmen individu melalui berbagai inovasi, mulai dari paket menginap, promo khusus, hingga penyelenggaraan berbagai kegiatan di hotel.
“Kami tidak bisa lagi hanya menunggu tamu datang. Sekarang kami yang aktif mendatangi calon pelanggan dan menawarkan berbagai program yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujarnya.
Lanjut Pandan, selain itu, Horison Kotaraja juga menggelar berbagai kegiatan komunitas, seperti kelas yoga dan acara tematik lainnya, untuk meningkatkan kunjungan sekaligus memperkenalkan fasilitas hotel kepada masyarakat.
Meski menghadapi tekanan, capaian bisnis hingga pertengahan tahun masih sesuai target perusahaan. Namun, secara keseluruhan target tahun ini diperkirakan turun sekitar 11–12 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tahun lalu pencapaian kami hampir 100 persen. Tahun ini memang ada penurunan, tetapi kami tetap optimistis bisa mencapai sekitar 90 persen dari target hingga akhir tahun,” ujarnya.
Pandan menyebutkan, dampak efisiensi anggaran juga dirasakan dari sisi tenaga kerja. Jumlah karyawan yang sebelumnya sekitar 70 orang kini berkurang menjadi sekitar 50 orang sebagai bentuk penyesuaian operasional perusahaan.
“Meski demikian, manajemen memastikan semangat pelayanan tetap menjadi prioritas. Berbagai program internal terus dilakukan untuk menjaga motivasi karyawan sekaligus meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan di tengah persaingan industri perhotelan yang semakin ketat” pungkasnya. (Muhammad Kasim)

















