JAYAPURA ( Bisnis Papua )- Badan Pusat Statistik ( BPS )Provinsi Papua mencatat Nilai Tukar Petani ( NTP ) Papua pada Februari 2024 mengalami penurunan 0,35 persen, dari 101,84 pada bulan sebelumnya menjadi 101,48.
” NTP di Papua mengalami penurunan dikarena kenaikan indeks yang diterima petani lebih kecil dari indeks yang dibayar oleh petani” ujar Kepala BPS Provinsi Papua, Adriana Helena Carolina dalam keterangannya,di Jayapura,Jumat(1/3/2024).
Menurutnya, rendahnya NTP Papua mengindikasikan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi dan biaya produksi tidak membawa perubahan yang signifikan dari tahun dasar atau 2018.
Rendahnya NTP Papua mengindikasikan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi dan biaya produksi tidak membawa perubahan yang signifikan dari tahun dasar atau 2018″
Ia menjelaskan, NTP merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk melihat kemampuan petani atau data beli dari petani di pedesaan.
NTP juga dapat menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun biaya produksi.
“Semakin tinggi NTP secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli dari petani.” jelas Adriana.
Menurutnya, NTP di Papua dihitung dari 5 ( Lima ) Subsektor pertanian yaitu Subsektor Tanaman Pangan, Holtikultura, Tanaman Perkebunan Rakyat,Peternakan dan Perikanan.
Adapun subsektor tanaman pangan ( NTPP ) periode Februari mengalami penurunan sebesar 0,63 persen dari periode sebelumnya.Selain itu, NTPH juga mengalami penurunan 2,24 persen dari periode sebelumnya.
” Sementara untuk tiga subsektor, Tanaman Perkebunan Rakyat ( NTPR ), Peternakan ( NTPT ) dan Perikanan ( NTNP ) mengalami peningkatan, 0,05 persen, 0,06 persen dan 1,15 persen.” jelas Adriana. (*)



















