JAYAPURA ( bisnispapua.com )– Dua provinsi di Papua mengalami inflasi pada Mei 2026, sementara dua provinsi lain deflasi. Data Badan Pusat Statistik mencatat inflasi bulanan tertinggi terjadi di Papua Tengah 0,52% mtm, disusul Papua Pegunungan 0,48% mtm.
Sebaliknya, Papua deflasi terdalam 0,68% mtm dan Papua Selatan deflasi 0,50% mtm. Plh Kepala Perwakilan BI Papua David Sipahutar mengatakan inflasi bulanan masih dalam sasaran target nasional.
“Didukung pasokan pangan lokal yang memadai, terutama cabai rawit dan sayuran, seiring cuaca kondusif,” kata David dalam keterangan tertulis, Senin( 8/6 )
Berdasarkan data, Inflasi di Papua Tengah dan Papua Pegunungan terutama disumbang kelompok transportasi. Kenaikan harga avtur memicu lonjakan tarif angkutan udara. Di Papua Tengah, angkutan udara andil 0,10% mtm, disusul beras 0,09% mtm dan tahu mentah 0,08% mtm. Di Papua Pegunungan, tomat andil 0,41% mtm, ayam ras 0,11% mtm, dan angkutan udara 0,10% mtm.
Deflasi di Papua ditahan oleh turunnya harga ikan tuna -0,67% mtm, ikan cakalang -0,17% mtm, dan cabai rawit -0,14% mtm. Sementara tomat menyumbang inflasi 0,40% mtm. Di Papua Selatan, deflasi didorong cabai rawit -0,32% mtm, kangkung -0,23% mtm, dan sawi hijau -0,13% mtm.
Secara tahunan, inflasi tertinggi ada di Papua Pegunungan 4,44% yoy dengan inflasi tahun berjalan 4,32% ytd. Papua inflasi 2,79% yoy, Papua Selatan 2,17% yoy, dan Papua Tengah 2,05% yoy.
David menyebut pengendalian inflasi Mei 2026 dilakukan lewat sinergi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
“Sudah ada Gerakan Pangan Murah berkala dan dukungan sarana produksi serta distribusi ke kelompok tani di 3 DOB,” ujarnya. ( Muhammad Kasim )



















